Sindikat Jual Beli Benih Lobster  di Pangandaran Dibekuk Polisi, Pengirimannya Hingga Vietnam 

oleh -3 views
Sindikat Jual Beli Benih Lobster 

INSIDEN24 – Sindikat jual beli benih lobster di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dibekuk polisi.  Selama ini pengirimannya hingga Vietnam.

Jumat (10/9/2021) pagi Polres Ciamis melakukan ekspos kasus tersebut di halaman Mapolres Ciamis, Kabupaten Ciamis. Polisi menangkap  dua orang Hd (53) dan ES (47), keduanya warga Kabupaten Tasikmalaya yang berprofesi sebagai nelayan.

Kepala Kepolisian Ciamis AKBP Wahyu Broto Narsono Adhi mengatakan, jajarannya telah mengamanka sindikat  jual beli benih lobster tersebut.

“Kurang lebih tiga bulan terakhir petugas berhasil membongkar praktik perdagangan benih lobster ilegal,” ujarnya.

Kapolres menyampaikan, penangkapan kedua   pada 24 Agustus 2021 di daerah Kecamatan Cijulang saat transaksi jual beli benih lobster. Saat itu Hd meminta tolong ES untuk mengantarkan kepada SS yang saat ini masih masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Keduanya berhasil kami tangkap berikut barang buktinya,” ujarnya.

Terungkap pula, kata Kapolres, HD merupakan seorang pengepul benih lobster dari para nelayan yang tidak sengaja tersangkut di jaringnya. Sedangkan ES merupakan kurir atau yang mengantarkan benih lobster kepada SS yang masih DPO.

“Kami amankan dari para pelaku ini sebanyak 631 benih lobster yang sudah siap jual, sering diantarkan kepada SS di wilayah Pamayang Kabupaten Tasikmalaya,” ujarnya.

Kata Kapolres, barang bukti (BB) benih lobster sudah langsung di lepasliarkan ke laut.

“Itu kami lakukan sesuai dengan aturan undang-undang, ketika melakukan penangkapan maka kami langsung lepasliarkan,” ucapnya.

Terungkap pula tersangka melakukan tindakan tersebut tidak hanya sekali, namun sudah tujuh kali. Keuntungan yang di peroleh sekitar 10-20 persen dari jumlah penjualan.

“Bahkan informasi yang kami dapat benih lobster tersebut akan pelaku kirim ke negara Vietnam,” ucapnya.

Penegasan Kapolres, para pelaku di kenai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 dengan ancaman hukuman paling lama delapan tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar.

“Semuanya kami proses hukum,” ucapnya. (Ceng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.