Nama Leuwi Ili Sungai Cileueur Ciamis, Ternyata dari Nama Seorang Santri yang Tewas Tenggelam Sekitar 50 Tahun Lalu

oleh -6 views
Nama Leuwi Ili

INSIDEN24 – Nama Leuwi Ili ternyata nama seorang santri yang tewas tenggelam di lokasi Sungai Cileueur Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Seperti diberitakan, Leuwi (lubuk) Ili merupakan lokasi tewasnya 11 siswa MTs Harapan Baru Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis dalam kegiatan susur sungai, Jumat (15/10/2021).

Menurut Kepala Desa Utama Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis Aep Djam’an, dari penuturan para sesepuh, nama Leuwi Ili ada ceritanya. Di Desa Utama ada pesantren.

“Nah ada santri nakal atau bandel bernama Ili sering mandi di leuwi tersebut meski sering diperingatkan. Karena nakal ia tetap mandi hingga akhirnya tenggelam dan meninggal dunia, akhirnya sampai sekarang namanya Leuwi Ili,” ucapnya, Sabtu (16/10/2021).

Cerita tersebut, kata Aep, sudah lama sekali mungkin kejadiannya pada sekitar 50 tahun lalu.

“Sejak kejadian itu kalau ada anak yang berenang di Leuwi Ili sering tenggelam. Tetapi kalau yang berenang masih orang sini biasanya selamat karena sudah tahu medan,” ucapnya.

Lanjut Aep, namun  baru tahun 2021 ini jumlah yang tewas tenggelam banyak yaitu 11 orang.

“Setelah ada kejadian ini, kami akan membuat tanda larangan jangan berenang di lokasi,” kata Aep.

Aep menyebutkan, sebenarnya leuwi tersebut sempat diuruk sekiar 10 tahun lalu, namun tidak dalam.

“Seiring waktu tanah urukannya terbawa arus lagi jadi sungainya pun dalam lagi,” ucapnya.

Nama Leuwi Ili, Pusaran Airnya Kuat

Aep menyebutkan, kedalaman leuwi tersebut ada 4-5 meter dengan lebar 30 x 20 meter persegi.

“Bahkan setiap kemarau tidak pernah kering, memang airnya terlihat dari atas tenang tapi justru di dalamya ada pusaran air yang kuat,” ucapnya.

Makanya, lanjut Aep, dengan kejadian 11 orang tewas itu mungkin karena dikira deet (dangkal) padahal dalam.

“Karena leuwi tersebut adalah cekungan sepertu kuali, terus biasanya Sungai Cileueur itu berbatu, namun ini cadas yang licin. Kemungkinan mereka terpeleset  dan masuk kepusaran air,” tuturnya.

Ucap Kades Aep, kemungkinan kesalahannya karena menyeberang pada bagian muka leuwi. Padahal secara teori seharusnya menyeberang pada bagian belakang (bujur) leuwi karena bagian depannya dangkal.

“Padahal ada pusaran air, mungkin mereka tidak tahu,” tuturnya. (Ceng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.