Polisi Belum Memeriksa Guru Ngaji yang Cabuli 9 Santriwati di Tasikmalaya

oleh -41 views
guru ngaji cabuli santriwati
Ilustrasi hukum

INSIDEN24 – Polisi belum memeriksa oknum guru ngaji yang diduga mencabuli sembilan santriwati di Tasikmalaya. Hingga saat ini penyidik baru memeriksa lima korban dan satu saksi.

Hal ini dibenarkan Kapoles Tasikmalaya AKBP Rimsyahtono.

Rimsyahtono mengatakan, penanganan kasus pencabulan di Tasikmalaya ini masih bergulir hingga sekarang. Pihaknya sudah memeriksa saksi-saksi dalam kasus ini.

“Kami memastikan sudah memeriksa enam orang saksi dalam kasus ini. Bahkan selain lima korban, seorang saksi diperiksa,” paparnya, Rabu (15/12/2021).

Menurut Kapolres, kasus ini langsung ditangani. Pihaknya sudah meminta keterangan para saksi dan terlapor.

“Totalnya sudah ada enam orang yang kami periksa,” katanya.

Terkait tersangka, Kapolres menjelaskan, hingga kini oknum guru ngaji tersebut belum diperiksa. Sebab, Unit PPA Satreskrim Polres Tasikmalaya masih mengumpulkan bukti dan keterangan saksi.

“Belum kita sentuh terlapor, masih mengumpulkan bukti dulu,” ucapnya.

Ulama berkumpul

Sementara itu, Sekretaria MUI Kabupaten Tasikmalaya KH Edeng ZA mengatakan, pihaknya menyikapi persoalan sosial ini dengan mengumpulkan ratusan tokoh agama dan masyarakat. Pada Selasa pagi kemarin, mereka berembuk untuk mencari solusi dan mengantisipasi kejadian serupa agar tidak terulang.

“Para ulama meminta agar kasus dugaan pencabulan diusut tuntas. Pelakunya diproses sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku,” tuturnya.

Edeng menegaskan, menurut kacamata agama, pelaku pencabulan di Tasikmalaya ini harus diproses, namun aibnya jangan disampaikan.

“Sekarang sudah menyebar informasinya, tinggal pelakunya diproses hukum,” tegasnya

Sekda Kabupaten Tasikmalaya Mohammad Zen menambahkan, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya langsung bergerak mengantisipasi kejadian asusila ini. Selain mengupayakan pendampingan korban melalui KPAID, pihaknya juga membentuk Unit Pelayanan Teknis Khusus Perempuan dan Anak di tujuh wilayah.

“Bahkan kami pemerintah daerah sengaja membuat unit pelayanan teknis khusus perempuan dan anak di tujuh wilayah,” katanya.

Menurut Zen, pemerintah daerah bekerja secara terus menerus melakukan edukasi, pencegahan hingga pendampingan terkait kasus asusila.

“Kami sudah menyediakan Unit Pelayanan Teknis di tujuh wilayah berkaitan dengan perlindungan perempuan dan anak. Untuk edukasi dan antisipasi kasus yang sama lagi,” tuntasnya. (Den/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.