Kenapa Saat Ini Umat Islam Mendapat Banyak Cobaan, Inilah Penjelasannya

oleh -3 views
Kenapa Saat Ini Umat Islam

INSIDEN24 – Kenapa saat ini umat islam mendapatkan banyak cobaan, cacian, makian, pelecehan dan permasalahan lainnya, inilah penjelasan ulama.

Penjelasan KH Ma’sum Achmad  Hasan, dengan kondisi saat ini mari kita tadabbur, tafakkur, dan introspeksi diri.

“Mungkin kita punya banyak kekurangan dan kelemahan,” kata KH Ma’sum yang juga Penasehat Umum Pondok Pesantren Miftahul Huda Utsmaniyyah Cikole Kecamatan Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis Jawa Barat, Selasa (9/11/2021).

Ia menyampaikan ada enam poin yaitu kita lebih banyak menonjolkan dan mempertontonkan  perbedaan daripada persamaan. “Yaitu lebih banyak menonjolkan dan mempertontonkan permusuhan daripada persatuan,” ujarnya.

“Keduanya lebih banyak memikirkan duniawi daripada ukhrowi,” ucapnya.

Kata KH Ma’ sum, yang ketiganya lebih banyak menceritakan kekurangan musuh, tapi tidak banyak memikirkan bagaimana cara kita mengalahkan musuh. Poin keempat, sering menganggap kawan dianggap lawan, lawan dianggap kawan.

“Kelimanya kita sering terjebak dengan menggaungkan toleransi kafir daripada menggaungkan toleransi Islam. Keenamnya, cobaan terberat bagi kita yakni banyak umat muslim bahkan mengaku ulama, ustaz dan kyai mereka berani menghina mencaci-maki agama dan umat Islam sendiri,” ujarnya.

Lanjut Ma’sum,  kekurangan kita saat ini justru ikut terjebak dengan dinamika politik praktis yang sangat pragmatis dan materialistis. Keadaan ini sangat merugikan umat dimana tugas utama dan paling penting bagi kita adalah melayani umat.

“Tugas ini tidak bisa ditangani dengan baik dan benar bahkan banyak yang belum tersentuh. Kita justru disibukkan dengan aktivitas dukung mendukung calon dalam sejumlah agenda kontestasi politik. Menjadi legitimasi kekuasaan bukannya menjadi kekuatan penyeimbang dan malah hadir sebagai bagian dari problematika umat,” ucapnya.

Kenapa Saat Ini Umat Islam Mendapat Banyak Cobaan, Salah Satunya karena Pergesekan Internal

Tambah Ma’sum, kita memunculkan pergesekan pada kohesi internal umat Islam, padahal semestinya kita menjadi lem perekat Ukhuwah Islamiyyah.

“Semestinya kita hadir sebagai penyeimbang kekuasaan, pengontrol kekuasaan dan pengikat ukhuwah Islamiyyah. Dengan merekatkan segenap komponen umat Islam tanpa membedakan latar belakang politik dan mazhab, maupun latar belakang organisasi keormasan,” ucapnya.

Ma’sum menjelaskan,  kita bukan hanya penyeimbang kekuasaan, pengontrol kekuasaan da pengikat ukhuwah Islamiyyah. Tapi,  kita sebagai payung dan  jangkar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Agar NKRI tidak semakin oleng dan terombang ambing dibawa arus,” ucapnya.

Ma’sum menyebutkan, bahwa  ulama adalah warisan para anbiya, tugas ulama adalah amar ma’ruf nahyi munkar.

Seperti, meluruskan arah bangsa dan negara jika terjadi ketidakadilan dan ketidak sesuaian dengan UUD 1945 dan Pancasila yang murni dan konsekuen.

“Sikap dan kebijakan pollitik kita yang di bangun dengan sistem politik praktis. Yaitu mengacu kepada Ashabul Qorror daripada Ashabul Haq Wal’Adl menyebabkan kita mengalami disorientasi gerakan,” ujarnya.

Akhirnya, sambung KH Ma’ sum, kita lebih ingin menguasai umat bukan melayani umat. Hal demikian sangat bertentangan dengan nilai-nilai khittah  ulama.

“Sikap dan kebijakan kita yang sangat menyesatkan saat ini adalah khittah ulama itu muthaghoyyir atau  conditioning (Sesuatu yg dapat berubah-ubah sesuai perkembangan). Padahal khittah ulama itu adalah tsabit atau final,” ujarnya.

Lanjut KH Ma’sum, yaitu berorientasi pada pencapaian ridho Allah SWT. Hal demikian sangat bertentangan dengan  nilai-nilai khittah ulama.

“Akhirnya kita bisa mengubah dan mengotak-atik kebijakan sesuai selera dan akan sangat pragmatis serta materialistis sesuai dengan dinamika politik yang berkembang,” ucapnya.

Ma’sum  pun mengajak mari menjaga ukhuwah Islamiyyah, kita pertontonkan kesatuan, persatuan, persaudaraan dan perdamaian.

“Saatnya kita maju, saatnya kita bersatu, maju terus, lurus, bagus, halus, tegas, cerdas, dan ikhlas, peduli kepada agama bangsa dan negara,” tuturnya. (Ceng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.