Site icon INSIDEN24

Tradisi Meriam Pohon Aren dan Bambu, Meriahkan Malam Idul Fitri Di Ciamis

Tradisi meriam pohon aren

INSIDEN24 – Tradisi meriam pohon aren dan bambu akan meriahkan malam Idul Fitri. Tepatnya, itu nanti akan berlangsung di Dusun Pasirtamiang, Desa Pasirtamiang, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Kemudian, Tokoh Pemuda, Pajar Asipa (34) meyampaikan, saat ini, banyak yang tengah mempersiapkan meriam karbit dari pohon aren dan bambu tersebut. Jadi, persiapan tersebut oleh para pemuda dan tokoh masyarakat di kampung tersebut.

“Jadi, tahun ini, kami mempersiapkan 11 pohon aren dan 500 bambu sebagai meriam karbit,” jelasnya.

Namun, kalau istilah di kampung Pasirtamiang, meriam karbit itu sebutannya, bedil lodong kawung atau bitung. Meriam tersebut merupakan traidisi malam Idul Fitri di kampung tersebut. Bahkan, tradisi ini tiap tahun selalu ada.

Kemudian, menurut kata sepuh di kampung tersebut, tradisi itu telah ada sejak awal kemerdekan.

“Awalnya, itu untuk menggambarkan daya juang dan memeriahkan datangnya malam takbiran. Bahkan, sampai sekarang, meriam lodong kawung dan bambu itu menjadi ciri khas Desa Pasirtamiang. Jadi, tidak ada tradisi seperti ini di desa lainnya yang ada di Cihaurbeuti,” paparnya.

Pajar menyatakan, tradisi tersebut bukan semata-mata kegiatan pelampiasan kesenangan masyarakat saja. Namun, itu juga cerminan kebersamaan, semangat juang dan kegembiraan akan datangnya hari raya Idul Fitri.

“Maka, warga di Desa Pasirtamiang selalu kompak dalam menyambut Idul Fitri. Tentunya, itu dengan cara mempersiapkan meriam dari pohon aren dan bambu dari sekarang,” ucapnya.

Tradisi Meriam Pohon Aren dan Bambu, Aman Dari Rumah Penduduk

Pajar meyampaikan, dentuman meriam ini aman dari pemukiman dan tidak merusak rumah. Pasalnya, lokasi dentuman ini jauh sekali atau berkilo-kilo dari pemukiman. Tepatnya, lokasinya ada di Gunung Sawal.

“Apalagi, lebih seru pas malam takbir. Sebab, dentuman kerasnya terdengar saling beriringan seperti perang,” jelasnya.

Pajar menjelaskan, pohon aren atau kawung yang dipergunakan adalah pohon yang sudah tua atau mati atau tidak berbuah. Sebab, jika pohonnya masih muda, maka tidak kuat untuk meriam. Jadi, supaya kuat, harus memakai pohon aren, bambu, kawat dan besi ukuran enam.

“Kemudian, kalau sudah kuat pakai tali, baru melakukan uji coba menyalakannya. Bila sudah bagus, baru nanti pelaksanaanya saat malam takbiran. Bahkan, untuk lebih meriah lagi, ada kiloan karbit yang akan kita sediakan,” ujarnya. (Ceng)

Exit mobile version